Bali | Stories | Ideas

Passion is Power

May 14, 2013
Windy
Comments Off

Stunning View at Pomegranate Cafe Ubud

Smack dab in the middle of rice fields, Pomegranate Cafe successfully caught my attention with its charm.

The amazing view of Pomegranate Cafe Ubud

It was purely because of our first impression that I, Arya, Savit, Dana and Hamzah dropped by this amazing cafe when we were cycling through rice fields in Ubud some weeks ago. Driven by our curiosity, we parked our bicycles and got into the cafe. The staff greeted us with their friendly smile and handed us the menu. We only ordered drinks as we had already planned to have dinner at Special Sambal in Batu Bulan (which I will tell you in my next review), our favorite restaurant selling many kinds of sambal.

The drinks at Pomegranate Cafe were fantastic! We ordered lime squash, melon juice and orange juice that were very refreshing.

On the next visit, I went there with Arya and Andri. The menu departs from the usual. We ordered fruit salad and sushi. The owner of this restaurant is Japanese. I wanted to meet him to ask why the restaurant was named “Pomegranate” because they don’t sell pomegranate juice (or maybe I did not see it on the menu). This was part of my curiosity. Unfortunately, he was not there at that time. We sat at the low table on the floor cushions while admiring the view of the rice fields. The classic white linen and timber look pretty pleasing to the eye. The marquee-like structure with open sides boasts the uniqueness of this restaurant.

The menu is quite varied, the food is pretty tasty, the service is great and on the top of that the location and the view are the best! This is the reason for my next visit. I strongly recommend this place for you to experience such a unique and lovely ambience in this place.

I went to Sari Organik once and I can say that I prefer Promegranate Cafe for its fantastic design and amazing atmosphere.

The best timing is perhaps the late afternoon if you don’t like hot weather but if you don’t mind the hot weather that will be okay to go there at noon for lunch or brunch. I have not tried going there in the morning. I bet that must be wonderful, too. I can imagine enjoying the smell of paddy fields in the morning feeling like I am going back to my childhood. The peaceful and romantic atmosphere is what makes this restaurant so inviting!

Overall, two thumbs up for this restaurant!

Review by Luh Windiari

PS: Riding a bicycle through the rice paddy fields is pretty fun but can be scary as well, especially at night. So, be careful! 

May 14, 2013
Windy
Comments Off

Menjadi Penerjemah Buku/Novel: Sebuah Cerita Pengalaman Desak Pusparini

[Artikel ini juga saya posting di website TranslationPapers Bali.]

Menjadi penerjemah buku/novel memberikan prestise tersendiri bagi si penerjemah. Apalagi jika dapat menerjemahkan buku atau novel yang disukai. Saya sendiri memiliki keinginan untuk menerjemahkan novel favorit saya selain menerjemahkan teks hukum, website dan jenis teks formal lainnya yang selama ini saya garap.

Beberapa bulan yang lalu di Warung Saman Renon, saya bertemu dengan Desak Pusparini yang akrab disapa Desak. Saya memanggilnya Mbak Desak. Sosok yang sangat ramah ini adalah orang Bali asli lo.

Waktu itu saya juga bertemu dengan rekan-rekan penerjemah di Bali lainnya yang juga memberikan inspirasi bagi saya antara lain Fey, Kunta dan Desi Mandarini.

Saat itu langsung muncul dalam benak saya untuk menulis artikel tentang “kiat-kiat menjadi penerjemah buku/novel bagi pemula”. Akhirnya, jadilah tulisan singkat ini yang mengulas pengalaman seorang Desak Pusparini yang mengagumkan dan memberi inspirasi.

Berikut adalah obrolan singkat saya dengan Mbak Desak:

Windy: Halo Mbak Desak, boleh sedikit bertanya nih. Kira-kira apa yang membuat Mbak Desak tertarik jadi penerjemah?

Desak:

Menjadi penerjemah adalah sebuah cita-cita yang lama terpendam, sejak saya masih duduk di bangku SMA. Waktu itu saya tergila-gila dengan kisah Winnetou dan Old Shatterhand, karya Karl May. Setiap membaca buku itu, saya selalu berpikir, siapakah yang menerjemahkan buku keren ini? Begitu hidup dan mampu membawa pembacanya seolah-olah ikut berada di hutan bersama orang-orang Indian suku Apache. Saya kagum, dan berharap suatu saat bisa menjadi penerjemah buku-buku bagus. Setamat SMA saya ingin kuliah di jurusan sastra Inggris, karena saya sangat menyukai bahasa Inggris tapi nasib malah membawa saya kuliah di jurusan Ekonomi. Walapun demikian kecintaan saya akan Bahasa Inggris tidak hilang. Selama perkuliahan di Ekonomi, saya justru lebih banyak membeli  buku-buku Bahasa Inggris. Waktu itu saya kuliah sore, dan paginya kerja sebagai instruktur komputer di sebuah lembaga pendidikan komputer. Jadi, saya punya uang sendiri sehingga bisa membeli buku-buku yang saya sukai dengan leluasa. Buku termahal yang pernah saya  beli saat itu seharga Rp. 500.000,- (terbitan PT. Widyadara), yang terdiri atas beberapa buku dan kaset (belum ada CD/DVD waktu itu).

Windy: Wow, boleh tahu judul bukunya Mbak Desak? Jadi penasaran hehe.

Desak:

Judul bukunya: New Ways to English, terbit tahun 1991, dan saya belinya pada tahun yang sama juga. Buku ini memang dirancang untuk orang yang mau belajar sendiri, ada Guide Book dan Text Book, ada Vocabulary + penjelasannya untuk setiap buku. Ada juga bonus beberapa komik bergambar tentang cerita-cerita klasik, salah satunya berjudul Huckleberry Finn (karya Mark Twain).  Waktu itu saya tidak pernah merasa sayang menghabiskan uang gaji untuk membeli buku-buku Bahasa Inggris. Setelah menikah dan punya anak, keinginan menjadi penerjemah makin menggebu-gebu, yang membawa saya kuliah lagi di UT (Universitas Terbuka) Jurusan Bahasa Inggris bidang minat penerjemahan, pada tahun 2007.

Windy: Wuah sangat menarik!! Kira-kira sejak kapan Mbak Desak menjadi penerjemah? He he

Desak:

Saya mulai menerjemahkan sejak tahun pertama kuliah di UT. Kecil-kecilan tentu saja. Waktu itu klien saya adalah keluarga dekat dan teman-teman dekat di sekitar saya. Materinya lebih banyak tentang modul-modul kuliah untuk mahasiswa pascasarjana. Pernah juga menerjemahkan Surat Kontrak, tapi tidak sering.

Windy: Kalau boleh tahu, buku apa saja yg pernah Mba Desak terjemahkan? :D

Desak:

Novel pertama yang saya terjemahkan bergenre thriller-detektif. Setelah itu saya mendapat kesempatan menerjemahkan buku dengan genre yang berbeda, dari novel klasik, buku-buku motivasi, dan novel-novel romans. Saya suka semua genre tersebut karena masing-masing punya sisi yang menantang. Saat ini saya sedang menerjemahkan novel klasik lagi, a Chinese Novel.

Windy: Wow hebat! Apa saja suka duka dalam menerjemahkan buku bagi Mbak Desak?

Desak :

Sukanya banyak, dukanya apa yaa? Rasanya ngga ada dukanya deh :D

Windy: Kira-kira apa nih Mbak Desak tips buat penerjemah pemula yang ingin menerjemahkan buku?

Desak:

Hm, saya sendiri masih tetap belajar dan belajar. Kalau berbagi tips kesannya saya sudah senior, padahal saya juga bisa dibilang masih pemula lho. Saya mulai menerjemahkan buku/novel dari tahun 2011. Belum lama kan? :) Jadi, saya berbagi pengalaman saja ya. Sebagai pemula, banyak-banyaklah berteman dengan para senior, jangan sungkan-sungkan bertanya. Perbanyak teman dan perluas jaringan. Ikuti milis-milis penerjemahan, salah satunya yang saya ikuti adalah milis Bahtera, yang memberi manfaat luar biasa bagi saya. Di sana kita bisa mengikuti berbagai macam topik yang sedang dibahas. Satu lagi yang terpenting, di milis tersebut sering ada lowongan bagi para penerjemah. Pokoknya, ngga rugi deh gabung di sana. :D

 

Windy: Pasti ada yang namanya stress saat dikejar deadline. Nah, bagaimana sih cara Mba Desak untuk mengatasi stress saat dikejar deadline?

Desak:

Pada saat menerima job terjemahannya, sebenarnya saya sudah memperhitungkan waktu dan kesibukan saya yang lain. Tetapi ada kalanya, sekalipun sudah diperhitungkan, seringkali ada hal-hal di luar dugaan yang mengharuskan kita menunda pekerjaan. Akibatnya, ketika menjelang deadlinestress tak bisa dihindari. Untuk mengatasi stress, kita memang mesti punya kegiatan penyeimbang. Yang mampu menyegarkan pikiran. Salah satu yang saya lakukan adalah nge-blogblogwalking. Membaca apa saja. Kemudian mendengarkan musik, jangan lupa, musik betul-betul bisa menenangkan pikiran. Satu lagi, bermain-main dengan anjing kesayangan saya, memperhatikan tingkah laku mereka yang lucu mampu membuat saya tertawa. Setelah itu, pikiran akan  fresh kembali dan siap melanjutkan pekerjaan untuk memenuhi deadline. Sederhana dan murah ‘kan? :D

Windy: Wuah makasi sarannya Mbak Desak :D  Nah, dalam menerjemahkan novel, pasti perlu banyak perbendaharaan kata dlm bhs indonesia. Bagaimana cara Mbak Desak untuk selalu update dgn perkembangan bahasa Indonesia? Apakah bahasa Indonesia yang dipakai dalam novel harus baku? Misalnya: “memesona” atau “mempesona” yang Mbak Desak pakai?

Desak:

Untuk gaya bahasa saya mengikuti gaya selingkung penerbit yang bersangkutan. Untuk ini saya mesti banyak bertanya dan riset dari beberapa novel terbitan mereka. Gramedia, misalnya belum tentu sama gayanya dengan Mizan. Khusus untuk memesona dan mempesona, saya lebih suka ‘mempesona’, entah kenapa, aura ‘mempesona’ terasa lebih kuat pesonanya ketimbang ‘memesona’. Mungkin hanya perasaan saya saja ya, hehehe. Tapi masih ada kok penerbit yang tetap menggunakan ‘mempesona’.
Untuk tetap update dengan perkembangan Bhs Indonesia, tak ada jalan lain memang harus banyak membaca (media offline ataupun media online) dan mengikuti diskusi di milis-milis bahasa atau ikut grup yang membahas kebahasaan.

Windy: Bagaimana cara Mbak Desak menyesuaikan style yg dipakai penulis?  Misalnya: kapan musti pakai “aku” dan “saya” hehe

Desak:

Untuk style ini biasanya saya dikasih tahu oleh editor dan diberi catatan, apakah harus pakai ‘aku’ atau ‘saya’, apakah ‘kamu’ atau ‘kau’ atau ‘Anda’. Tapi ada juga editor yang tidak memberitahu saya. Kalau demikian, biasanya saya sesuaikan dengan isi buku/novel tersebut. Apakah hubungan antar tokoh itu formal atau informal, dari situ saya bisa mengambil keputusan, apa yang harus saya pakai.

Wuah terima kasih Mba Desak sudah mau berbagi cerita dengan saya dan mengijinkan saya untuk mengunggah tulisan ini ke website dan blog saya. :)

Luh Windiari [Windy]

TranslationPapers Bali 

April 26, 2013
Windy
Comments Off

Cycling in Ubud

Wow! This is definitely another adventurous experience! Me, Savit, Dana, Hamzah and Arya went cycling to Ubud. We left Denpasar at around 2 P.M. and arrived in Ubud at around 3 P.M.

First, we stopped at Kakiang Bakery. This bakery corner is famous in Ubud. The cakes are yummy and  I could not wait to taste the mouth-watering tiramisu cake! Ha ha ha.

We ordered banana cakes, strawberry cakes and tiramisu cakes. For drinks, we ordered cappuccino and tropical tea. Savit also tried the nasi goreng.

Kakiang Bakery Cakes

Kakiang Bakery is a nice place to chat while enjoying delicious cakes. The space is wide enough with quite nice furniture.

From the left: Dana, Savit, Windy (me), Arya, Hamzah

There is another nice cake corner in Ubud named White Box. That is also interesting.

The next destination was cycling!

We rented bicycles close to Ubud Palace and Babi Guling Ibu Oka. It’s only Rp. 15,000 for local people.

We started to cycle up and I almost gave up. My friends told me that the view on the top would certainly pay all the efforts I spent. I kept cycling and WOW! The view was so amazing! I loved it so much. The path was narrow so for you who are scared of cycling in a narrow path, be careful!

Cycling in Ubud

I used to cycle when I was a kid so I did not mind cycling on the narrow path. I enjoyed it very much especially when I saw the beautiful view there! It’s so amazing!

What a breathtaking view!

What a wonderful View - taken from Dana's camera

We took pictures there and dropped by at an amazing cafe named Pomegranate Cafe. We loved the design of this cafe. It’s surrounded by rice fields. We could feel the smell of the paddy plants and enjoyed sitting on the lazy chair while chatting and enjoying the view and the energizing taste of a glass of fresh lemon juice.

We had a nice chat at Pomegranate Cafe Ubud

We went back to the bicycle rental shop to return the bicycle and went home. But, as always, when we came back from Ubud, we took a stop at Special Sambal in Batu Bulan. What a complete fantastic and exciting journey! Love it.

April 22, 2013
Windy
Comments Off

Bertemu David Irons di Hubud.org

Beberapa hari yang lalu saya bertemu seorang klien bernama David Irons di Ubud. David adalah seorang kurator dan juga sahabat Ketut Madra, pelukis wayang yang terkenal di Ubud. Alumni Harvard University yang juga pernah bekerja di Harvard University dan University of California, Berkeley di bidang humas ini adalah seorang yang sangat luwes. Kecintaannya akan lukisan wayang membuatnya tertarik untuk menyelenggarakan pameran lukisan wayang oleh pelukis Ketut Madra dan berkolaborasi dengan museum-museum di Ubud. Pameran tersebut akan diselenggarakan di Puri Lukisan Ubud bulan Oktober mendatang. David perlu seorang penerjemah untuk menerjemahkan katalog untuk lukisan-lukisan yang akan dipamerkan antara lain lukisan wayang Pak Ketut Madra, beberapa lukisan Kamasan dan lukisan-lukisan dari pelukis tenar lainnya yang akan dipamerkan. Dua orang teman baik saya yang bernama Diah Tricesaria dan Anggara Mahendra merekomendasikan saya dan akhirnya saya bertemu David. Terima kasih Diah dan Anggara!

Saya dan Anggara (yang juga membantu David mengambil foto dan vidio) bertemu David di Hubud.org yang berlokasi di Jalan Monkey Forest Ubud.

Kesan pertama saya ketika memasuki pintu Hubud.org adalah WOW! Keren sekali tempat ini!! Saya disambut senyum ramah dari David dan Peter seorang co-owner dari Hubud.org. Saya sangat terkesan dengan konsep Hubud.org ini. Selain menawarkan internet dengan kecepatan tinggi, ruangan-ruangan dengan berbagai pilihan ukuran untuk teleconference, ruang internetan atau ruang meeting dengan meja yang luas, papan tulis, layar dan tentunya ber-AC. Di lantai atas juga ada ruangan terbuka yang dapat difungsikan sebagai tempat kumpul untuk acara reuni, atau ulang tahun dan lain sebagainya.

Tampak dua orang tamu yang asik dengan laptopnya di ruangan Hubud.org yang cozy

Ruang meeting Hubud.org yang lengkap dan menyenangkan

Ruangan Hubud.org yang multifungsi

Bisa bersantai di ruangan ini sambil internetan

Saya lalu berpikir, jika saya tinggal di Ubud, saya akan sangat berminat untuk booking dan jadi member. Mungkin jika saya dan teman-teman pas ada event, kami akan booking di sana. Para owner Hubud.org sedang membuat satu restoran juga, jadi sehabis meeting kita dapat bersantap siang di sana. Ada juga kebun yang dapat dipakai outdoor activities dan beberapa kamar menginap di belakang ruang meeting. Sungguh konsep yang menarik!

Saya, Anggara, David dan Peter ngobrol di lantai atas. Ditemani dengan secangkir kopi yang dibuatkan David dan pembicaraan yang penuh dengan motivasi dan inspirasi yang baru, saya merasa tersegarkan dan bagaikan mendapat suntikan semangat dan optimisme baru. Saya bersyukur memiliki teman baik seperti Diah dan Anggara karena saya dapat bertemu dengan orang-orang baik lainnya yakni David dan Peter. :)

Luh Windiari

April 22, 2013
Windy
Comments Off

Suntikan Semangat di Bulan April

Setelah bulan-bulan yang cukup melelahkan didera deadline, punggung terasa pegal dan ada sedikit rasa jenuh menatap komputer dan berkutat dengan kata-kata apalagi kalimat-kalimat yang agak sulit dimengerti, saatnya “recharge”!!

Saya bersama TranslationPapers Bali Team yang terdiri dari Verra, Arya, Fey dan Fitrisan menghadiri Seminar Sehari NOT Lost in Translation yang diselenggaraan di Universitas Warmadewa Sabtu tanggal 20 April 2013 yang dihadiri oleh hampir 200 peserta yang terdiri dari para penerjemah, juru bahasa, dosen, mahasiswa dan profesi lainnya.

Widya dan Diah tidak dapat hadir karena ada acara penting lainnya. Saya sangat senang dapat bertemu dengan banyak penerjemah lainnya yang sangat antusias mengikuti jalannya seminar.

Acara dibuka oleh Wakil Rektor I Universitas Warmadewa dan ada juga sambutan dari Bapak Eddie Notowidigdo selaku Ketua Umum HPI. Ada empat sesi dalam seminar ini yang kemudian disusul oleh acara khusus yakni acara pembentukan Komda HPI Bali Nusra. Sesi pertama yang dibawakan oleh anggota kehormatan HPI, Ibu Sofia Mansoor yang menyuntikkan semangat ke para peserta seminar mengenai manfaat menjadi penerjemah sebagai suatu profesi yang menjanjikan. Ibu yang memiliki segudang pengalaman dalam dunia penerjemahan dan seorang pendiri Bahtera ini juga memberikan tips menarik untuk para penerjemah. Pada sesi kedua, Pak Ana, seorang juru bahasa di Pengadilan Negeri Denpasar yang juga seorang dosen di Universitas Warmadewa dengan menarik dan kocak mengupas seluk beluk penerjemahan lisan terutama penerjemahan lisan di pengadilan. Sesi ketiga yang tidak kalah menarik ini diisi oleh Ibu Ana Wiksmadara yang selalu penuh semangat memaparkan manfaat menjadi anggota HPI dan tips-tips luar biasa lainnya. Penggunaan Cat Tools sebagai alat bantu penerjemahan dikupas dengan menarik pada sesi keempat oleh Ibu Dita. Semuanya sangat menarik dan penuh dengan informasi baru!

Ada juga peluncuran buku Bahtera yang berjudul Pesona Penyingkap Makna dan hari seminar ini juga bertepatan dengan ulang tahun seorang teman baik Mba Desak Pusparini. Selamat Bahtera! Selamat Mba Desak semoga makin sukses!

Anggota Penuh HPI Komda Bali Nusra bersama Ketua HPI (Pak Eddie)

TranslationPapers Bali Team dengan Pak Eddie (tengah)

Semoga solidaritas antar anggota menjadi semakin kokoh dan HPI makin jaya! Dan tentunya, semoga saya dan rekan-rekan di TranslationPapers Bali jadi makin semangat dan terus terpacu untuk meningkatkan kualitas diri dan usaha.

Cheers,

Luh Windiari

April 21, 2013
Windy
Comments Off

Accurate and Reliable Translation Service in Bali – TranslationPapers Bali

Hooray! TranslationPapers Bali now has 7 translators who are also interpreters. Since February 2012, TranslationPapers Bali has gained more and more clients and projects. We believe that TranslationPapers Bali will gain a greater success in the upcoming days!

Below is the information about TranslationPapers Bali taken from its website www.translationpapers.com.

TranslationPapers Bali is based in Denpasar, Bali, Indonesia. We are a team of passionate and experienced translators majoring in translation studies. Together, we had been handling translation projects since 2008 as freelance translators, and, seeing a good prospect in this business, in February 2012 we decided to establish this partnership.

We started out with doing translations from Indonesian into English and vice versa, and with added team members now we also do translations from Indonesian into Japanese and French (and vice versa), and English into Japanese and French (and vice versa).

We are specialized in translating legal documents such as deeds, certificates, agreements and contracts; however, we also welcome other genres such as business and commerce, marketing and advertising, tourism and hospitality, literature and journalism, art and culture, etc. Additionally, we also provide other services such as editing, proofreading, interpreting, language training and website translation.  To date, our clients include notaries, advocates, academics, corporate executives, and private enterprises.

In line with our tagline accurate and reliable, we strive to provide our clients with accurate translation results and reliable services. We uphold the idea that translation should reproduce the meaning of the source text as exactly as possible while at the same time use natural forms of the target language. To achieve the ideal, we understand that in addition to advanced language skills we need to have good subject knowledge as well as social-cultural competence. Therefore, we are committed to continually expanding our capacity and knowledge.

OUR VISION

Become the leading translation business in Bali. We envision TranslationPapers Bali as the center of translation excellence in Bali within 3 years since establishment

MISSION

“Deliver excellent translation services”

- Be the best translation partner for our clients

- Provide our clients with consistent quality of service

- Improve our knowledge and skills and expand our business capacity

-Establish and maintain potential and current client relationships

Company Values

Passion

We are first of all driven by our passion for linguistics and translation, which makes our job mean not just work and commitment for us, but also pleasure.

Collaboration

Having mutual passion, for us coming together is a beginning. Keeping together is progress, and working together is success.

Excellence

We strive to provide our clients with extraordinary service. We regard all of our clients’ documents with importance, regardless of their types or genres, and focus on producing the best translation results possible.

Speed

Our excellence also comes with speed. We know our clients’ time is valuable.  Therefore, we keep speed in mind with each new project, and continue to work on making it done even faster.

Accountability

We stand accountable for our work. We make sure that what we promise is what we deliver.

****

Take a moment to explore our web. For anyone studying or interested in translation, enjoy our articles and papers related to translation studies on our articles/papers section. Feel free to get in touch if you’d like to know more.  We look forward to doing business with you.

For any information or further assistance you can contact us via:

Phone: 081 805 434 616 and 088 115 097 86

or email at: 

translationpapers@gmail.com

luh.windiari@gmail.com

verramulia@gmail.com

Cheers,

TranslationPapers Bali Team

March 3, 2013
Windy
4 Comments

Tegal Wangi Beach Jimbaran, a Hidden Beauty

Setelah jalan-jalan ke Penglipuran, perjalanan berikutnya adalah ke Pantai Tegal Wangi Jimbaran. Dana berencana duduk santai menikmati sunset alias nyanset ditemani es kelapa muda. Tapi begitu sampai di sana, sudah tidak ada lagi warung es kelapa muda :( .

Kebanyakan dari pengunjung adalah pasangan calon pengantin yang mau foto pre-wedding. Wuah kali ini ketemu orang sesi foto pre-wed lagi dan banyak! Mungkin ada 4 atau 5 pasangan. Wow!!

Pemandangannya indah banget! Cocok sekali pantai ini dinamakan the hidden beach. Pasirnya cantik dan pokoknya asik dah! Sayang angin pas itu kenceng banget dan air lagi pasang karena kami kesana pas sehari sebelum purnama, jadi air laut pasang deh.

Tidak lupa kami jeprat jepret disini. Ayo, bagi yang mau pre-wed, tempat ini cukup recommended lo. :D :D

February 25, 2013
Windy
6 Comments

Menengok Desa Tradisional Penglipuran

Desa tradisional ini terletak di Bangli, kurang lebih 2 jam dari Denpasar jika tidak nyasar he he he. Awal mula kenapa kami (Saya, Arya, Savit, Hamzah, Dana dan Marwa) kesana adalah karena kami penasaran. Seperti apa sih Desa Penglipuran ini. Perjalanan menuju ke desa ini sungguh menyegarkan mata. I am a worshiper of nature! Saya suka pemandangan alam. Sungguh menyegarkan mata.

Begitu memasuki area ini, kami disambut dengan ramah oleh Bapak petugas di pintu masuk. Turis domestik bayar tiket lebih murah daripada turis asing (ya iya lah!). Kami tidak lupa melihat papan peta sekilas yang dipasang dengan rapi di pintu masuk Desa.

Desa ini masih terawat kondisi tradisionalnya.  Jalanan dipaving untuk memberi sentuhan rapi. Tanaman-tanaman bunga dan plawa ditanaman di depan rumah. Setiap rumah diberi nomor dan ada juga nama kepala keluarga yang ditempel pada bagian depan rumah yang memiliki angkul-angkul. Sungguh rapi dan mengingatkanku akan desaku 20 tahun yang lalu yang masih tradisional :D Bahkan sudah ada tong sampah umum yang membedakan sampah organik dan non-organik.

Penduduk di desa ini tetap mempertahankan tradisi misalnya tradisi rumah Bali dengan mengindahkan asta kosala kosali yakni tata letak pekarangan, letak sanggah, dapur dll. Rata-rata rumah tradisional Bali mengikuti asta kosala kosali tapi banyak juga yang sudah modern sekarang.

Kami berjalan-jalan disana dan jeprat-jepret narsis. Ternyata ada juga sepasang calon pengantin yang sedang melakukan sesi pra-pernikahan alias pre-wedding photo session di sana.

Seperti namanya penglipuran yang bermakna hiburan, Desa ini konon katanya menjadi tempat peristirahatan di zaman kerajaan.

Hujan gerimis pun turun. Kami bergegas kembali ke mobil dan pulang. Dalam perjalanan pulang kami melewati Kintamani dan membeli jeruk Bali, Manggis dan Salak Bali. Segarrrrnyaaa!!

Kami mampir di sebuah warung makan. Hujan turun makin deras menambah gotik-nya suasana. Lupa sekali saya ambil potonya :(

Savit dan kawan-kawan lainnya memesan teh enjet (dibaca: teh hangat), Ikan bakar dan nasi. Saya seperti biasa yang merasa hari tidak lengkap tanpa kopi, memesan kopi panas dan nasi goreng ho ho. Dinginnya suasana menjadi hangat dengan obrolan-obrolan ringan dan lucu. Ngebanyol dan ngewalek adalah sesi yang bagaikan bumbu penyedap bagi kami. Ha ha ha, terutama ngewalek Ms. Wabo, upsss :D :P

Pulangnya kami mampir ke White Box di Ubud. Ini ke-dua kalinya saya kesana. Saya suka ice coffee late di White Box. Cakes dan cookies-nya juga enak.

Dana dan Savit tidak melewatkan Gelato saat itu dan…. belum lengkap juga wisata tradisional kami yang berujung kuliner dengan mampir ke SS alias Spesial Sambal di Batu Bulan. Setelah mengantre 1 jam lebih, pesanan datang. Untungnya enak hehe.

Senangnya habiskan weekend dengan sahabat! Sunnguh merupakan suntikan ‘kebahagiaan’ dan ‘semangat’. :D

January 20, 2013
Windy
2 Comments

Telaga Waja Rafting

After  the first adventurous snorkeling in Menjangan Island and the second trip to Gili Trawangan, this time, the happy-go-lucky crew had an exciting rafting experience in Telaga Waja river in Karangasem.

Telaga Waja river is one of the longest rivers in Bali. It flows from the slopes of Mount Abang. This was a 22 kilometres rafting journey that lasted for about three hours to experience the chalenging routes along the rafting journey and to witness the fantastic view along the river.

We left Denpasar at 8 AM. We were picked up by the Telaga Waja Rafting driver, Mr. Gede. He was quite humourous. As always, going out with Savit and Hamzah was entertaining. This time, Dana could not join. If he had joined, it would have been more fun.

Me, Arya, Savit, Hamzah, Marwa and Muri posed before starting the journey. We enjoyed a cup of black coffee after paying for the trip.

We walked to the river through a nice walking path in about 5 minutes. Again we took pictures before starting. We paid some for having a photographer take our pictures during the journey.

We listened carefully to the briefing that the guide gave to us. Then, the rafting started!!

The guide worked hard to ensure that we had a great experience and to keep us safe.

Wow it was wonderful!!!

January 16, 2013
Windy
3 Comments

An Adventure to Gili Trawangan

Gili Trawangan is the largest of Lombok’s Gili islands.

I will tell you the complete story of my adventure in Gili Trawangan so that any of you who perhaps plan to go there can get some information on what to prepare.

It was my first visit to Gili Trawangan. I had been working on a translation job a day before my departure for 24 hours and had not slept at all. Though I was sleep-deprived, my motivation to see Gili islands was bigger than my tiredness. I went there with Savit, Dana, Hamzah and Marwa. They are my happy-go-lucky friends. This was our second adventurous journey after snorkeling in Menjangan Island.

Oh I missed my Ubud gang (Diah was in Jogjakarta pursuing her master’s Degree, Rainy had just got married to her prince charming and was in Samarinda, Aries and Edo were busy with their business and Andri was in his recovery phase after an accident). I hope to see you again guys!! And, Arya did not join us this time.

We went to Gili Trawangan by boat. The agent picked us up in Denpasar and dropped us in Padang Bay. We left Padang Bay and it took about 3 hours to arrive in Gili Trawangan.

My first impression seeing this island was WOW! I loved the beach view! The white sand, blue water, nice weather and everything were perfect. We stayed in Villa Queen. This villa was just a perfect place to stay in though it is quite far from the centre. I just knew that there are no motorcycles and cars in this island. The only means of transportation are bicycles and chidomos (horse carts). So, we went to the villa by Chidomo because it took 30 minutes from the centre to Queen Villa. We were charged Rp 150,000 which was quite expensive for us for a one time transfer. I took pity on some horses. They looked so exhausted. Some were forced to carry more than four passengers including their belongings. I hope that more and more people there care about animals.

When we arrived at the villa, we did not want to miss any single time. First, we went to rent a bicycle but alas, all bicycles in the villa had been booked. We went to the centre again by chidomo and each of us rented a bicycle for Rp 60,000 per 24 hours. Then, we went swimming in the sea and then in the swimming pool. The dinner was nice. We had dinner, chit chat and enjoyed the beach air. This is really a perfect place for holiday. Night came and the bed was so comfy that we fell asleep fast.

Morning came! I did not want to miss any morning without a coffee. Luckily, there was a jar, coffee, sugar and all that I needed to make coffee in the room. I brought two sachets  of Nescafe Ice as I was always dying for it every day ha ha ha! After having our breakfast, we cycled to the centre for a snorkeling tour. We had already booked a snorkeling tour to Gili Meno, Gili Air and back to Gili Trawangan. We paid Rp 150,000 and it included lunch and a life jacket. On the way cycling to the tour stand, we enjoyed the view very much. The street was paved but some parts were still on the on going process. It was just lovely! Ups! Be careful, keep watching chidomos around you because the path is not wide. Hamzah and Dana were usually at the front while Savit and I were always at the back though we tried to be at the front. Sometimes, Marwa was at the back guarding us haha!

After 30 minutes cycling until gempor (an Indonesian slank meaning exhausted), we arrived at the tour stand at the centre. Centre is what the local people call the area around the harbour. In this area, shops and restaurants scatter around. Basically what they sell are exactly like those of in Sukawati Market in Gianyar Bali, so for Balinese people, we’d better shop at home. The price of everything is of course more expensive there. But still me and my friends bought some T Shirts printed “Gili Trawangan”.

When we arrived at the tour stand, we picked the snorkeling equipment. I thought it was a private chartered boat but it was NOT. The boat was quite big and it had a bottom glass so we could see the underwater view. But, the passengers were too many! Unlike in Menjangan Island, where the coral reefs are more beautiful and preserved and where we could charter a private small boat, here we could not. Well, never mind! We still enjoyed it though it was even raining quite heavily. Wow I enjoyed snorkeling in the rain. What an experience! We did fish feeding and tried to see a shipwreck but it was quite difficult to see it as it was too dark and deep down there. In addition to that, there were some people diving. That’s why we could not see the shipwreck clearly except the bubbles from the people who were diving.

It was so cool. We had lunch in Gili Air. The Nasi Goreng tasted just delicious since we were too hungry. Chatting was another fun activity with friends. There’s a saying that birds of the same feathers flock together. We feel fun and comfy when we are with people who have the same interest. Happygolucky!

To make the story short, we finished snorkeling. Me, Savit and Marwa went back to the villa but on the way we dropped by the Villa Ombak’s stand to buy tickets for the New Year Party that day while Dana and Hamzah were cycling around the island. I wondered why they did not feel tired at all.

We took a short nap and prepared ourselves for the New Year’s Party. Again, by riding bicycle at night to Villa Ombak’s party place. Well, it was a horror but it was quite fun.

The next day, we checked out and again we had to cycle to the harbor. It was raining and wow!! What a great experience cycling in the rain ha ha ha! Girls, there is one suggestion for you. It’s better to bring a backpack than a girly travel bag like what Savit brought. Ups! :D

Finally we returned to Bali. :D :D

Thank God for the fantastic journey I had.